Mengenal Microservices dan Plus-Minusnya

Pengenalan Microservices

Aplikasi seperti Gojek, Grab, hingga Netflix bisa menjadi besar salah satu hal karena menggunakan microservices. Dengan microservices, aplikasi-aplikasi tersebut dapat memiliki beragam fitur namun tetap ringan dan mudah dikembangkan. Mengapa bisa begitu? Apa itu microservices sebenarnya? Pada artikel ini, cloud ace akan memberikan penjelasan.

  1. Apa itu Microservices

Microservices adalah layanan yang memungkinkan aplikasi besar untuk diuraikan menjadi bagian-bagian konstituen independen, dengan setiap bagian memiliki tanggung jawabnya sendiri.

Microservices memungkinkan tiap fitur pada aplikasi mengalami pengembangan tersendiri. Pola arsitektur microservices secara signifikan mempengaruhi hubungan antara aplikasi dan database.

Lebih lanjut menurut Microservice.io, adanya microservices memungkinkan aplikasi menjadi lebih padat dan kompleks namun tetap ringan. Intinya, microservices adalah metode dengan membagi services ke bagian yang lebih kecil namun tetap berkaitan.

2. Perbedaan Microservices dengan Monolitik

Arsitektur monolitik dibangun sebagai satu sistem besar dan biasanya berdasarkan satu basis kode. Sedangkan arsitektur Microservice adalah dimana aplikasi dibuat sebagai rangkaian layangan kecil, masing-masing dengan basis kodenya sendiri.

Karakteristik

1. Banyak komponen

Salah satu tujuan digunakannya microservices adalah agar suatu aplikasi dapat memiliki beberapa fitur yang optimal. Tiap fitur tentu saja memiliki komponen tersendiri untuk menjalankan layanannya. Oleh karenanya, dalam microservices akan terdapat banyak komponen yang digunakan.

2. Ditujukan untuk kebutuhan bisnis

Banyaknya fitur dalam suatu aplikasi berkaitan dengan tujuan bisnis yaitu dapat melayani konsumen semaksimal mungkin. Tanpa microservices, suatu aplikasi hanya dapat menjalankan aplikasinya secara optimal untuk satu tujuan besar, misal transaksi untuk produk rumah tangga. Berbeda jika ada microservices, hal tersebut bisa dioptimalisasi dengan menambahkan fitur-fitur pelengkap dari transaksi produk rumah tangga. Contoh dari hal itu adalah layanan membersihkan rumah. Dengan microservices, fitur baru tersebut dapat berjalan maksimal tanpa mengganggu tujuan utama dari aplikasi.

3. Proses routing yang simpel

Tujuan microservices adalah menyederhanakan suatu proses dalam aplikasi. Karena terbagi dalam fitur-fitur kecil, jika terjadi suatu permintaan, fitur tersebut tak perlu memproses terlalu lama untuk menyinkronkan dengan fitur lainnya. Seperti dijelaskan sebelumnya, hal ini terjadi karena microservices memungkinkan adanya fitur baru tanpa mengganggu fitur utama.

4. Dapat berjalan sendiri (decentralized)

Dengan microservices, setiap fitur yang ada berjalan sendiri tanpa harus melakukan sinkronisasi dengan fitur-fitur lainnya. Itulah mengapa tiap fitur dalam aplikasi memiliki tim developer-nya sendiri yang berbeda dengan pengembang dari aplikasi utama.

5. Mengurangi risiko kegagalan

Meskipun berjalan sendiri, beragam fitur atau fungsi dalam aplikasi dapat saling mem-backup. Hal ini membuat jika terjadi kegagalan dalam suatu fitur, terdapat backup melalui database yang tersedia.

6. Selalu berubah

Kemudahan yang diberikan microservices memudahkan suatu aplikasi beradaptasi dengan keadaan. Beragam jenis gadget, serta berbagai update yang diberikan tetap membuat suatu aplikasi dapat optimal karena adanya microservices.

Keunggulan dan Kelemahan  Microservices

Berikut adalah beberapa keunggulan Microservices:

  • Ketergantungan lebih sedikit dan mudah untuk diuji.
  • Meminimalkan pengaruh pada layanan yang sudah ada.
  • Dapat dikelola secara independen.
  • Biaya penskalaan relatif lebih murah dibandingkan dengan arsitektur monolitik.
  • Release cycle lebih cepat.
  • Penskalaan yang dinamis.

Kelemahan Microservices antara lain adalah:

  • Memiliki semua kompleksitas yang terkait dengan distributed system.
  • Ada kemungkinan kegagalan saat komunikasi antara layanan yang berbeda.
  • Sulit untuk mengelola layanan dalam jumlah besar.
  • Pengujian kompleks di lingkungan terdistribusi.
  • Developer perlu menangani masalah seperti latensi jaringan dan load balancing.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat di pertimbangkan penggunaan microservices dalam pengembangan aplikasi.

Anda punya pertanyaan seputar artikel ini? Silakan kontak kami dengan mengisi formulir di bawah.

Artikel ditulis oleh:
Aditya Bagus Prasetya
Technical Writer

%d bloggers like this: